PENALARAN DEDUKTIF
ANALISA PEMBAHASAN
Nama Dosen : Drs. Budi Santoso, MM
Penyusun :
Alfiyantus Zainab Farah Camela (20213657)
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
atas kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat-Nya, sehingga saya
dapat menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia dengan judul “Penalaran Deduktif”
ini. Tugas ini dibuat berisi tentang pengertian dan jenis-jenis kalimat
deduktif.
Makalah ini
telah saya susun dengan maksimal dan besar harapan saya agar tulisan ini dapat
berguna dan memberikat manfaat yang positif bagi saya pribadi dan kepada para
pembaca tulisan ini.
Terlepas
dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Saran dan kritik begitu saya
harapkan agar dapat memperbaiki tulisan saya dimasa mendatang.
Bekasi, November 2015
(Penyusun)
DAFTAR ISI
Cover .........................................................................................................................................
I
Kata pengantar .........................................................................................................................
II
Daftar Isi
.................................................................................................................................
III
BAB I : Pendahuluan
................................................................................................................
4
1.1 Latar
Belakang ...................................................................................................
4
1.2 Rumusan
Masalah ...............................................................................................
4
1.3 Tujuan
.................................................................................................................
4
BAB II : Pembahasan
...............................................................................................................
5
-
Penalaran
Deduktif
...........................................................................................
5
-
Bentuk-bentuk
Penalaran Deduktif
.................................................................. 6
-
Silogisme
Kategorial
........................................................................................
7
-
Silogisme
Hipotesis
..........................................................................................
8
-
Silogisme Disjungtif
.......................................................................................
10
-
Entimen ..........................................................................................................
10
BAB III Penutup .....................................................................................................................
11
Daftar Pustaka ........................................................................................................................
12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Penalaran merupakan hal yang kita
sering gunakan sehari hari di dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan
orang terdekat baik keluarga maupun kerabat di tempat kuliah atau di kantor.
Namun penulis akan menjelaskan pembahasan kali ini tentang penalaran yang
penggunaanya kita gunakan di dalam bahasa kita sehari hari yaitu Bahasa
Indonesia.
1.2 Rumusan
Masalah
a.
Apakah yang
dimaksud dengan Penalaran Deduktif ?
b.
Apa saja
jenis-jenis Penalaran Deduktif ?
c.
Apa yang
dimaksud Silogisme ?
d.
Apa yang
dimaksud Entimen ?
1.3 Tujuan
Tujuan
penulisan ini sadalah untuk peningkatan mutu dalam penggunaan Bahasa Indonesia
dalam menguasai kemampuan berfikir, bersifat rasional dan
dinamis berpandangan untuk menganalisa konsep penalaran induktif.
BAB II
PEMBAHASAN
Penalaran
Deduktif
Dalam
berbahasa sehari-hari ataupun secara formal, dalam bentuk tulisan maupun lisan,
pernalaran yang tepat perlu digunakan. Khususnya dalam penulisan, kita harus
berpikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya
supaya bisa menarik kesimpulan yang tepat. Namun pada kesempatan ini saya hanya
akan membahas Penalaran Deduktif.
Penalaran deduktif adalah suatu
penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang
kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan
atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini
diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan
operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu
harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan
penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut,
konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Contoh :
-
Premis
1
= Semua makhluk adalah
ciptaan Tuhan (U)
-
Premis
2 =
Manusia adalah makhluk hidup
(U)
-
Premis
3
= Manusia adalah makhluk
ciptaan Tuhan (K)
Dapat dilihat dari contoh diatas bahwa deduksi ialah proses pemikiran yang
berpijak pada pengetahuan yang lebih umum untuk menyimpulkan pengetahuan yang
lebih khusus. Bentuk standar dari penalaran deduktif adalah silogisme, yaitu
proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu
proposisi baru (berupa konklusi). Artinya apa yang dikemukakan di
dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam pernyataan tersebut.
Jadi
sebenarnya proses deduksi ini tidak menghasilkan suatu pengetahuan yang baru,
melainkan pernyataan kesimpulan yang konsisten berdasarkan pernyataan dasarnya.
Bentuk-bentuk Penalaran Deduktif
Menurut
bentuknya, Penalaran Deduktif dibagi menjadi dua yaitu :
1.
Silogisme
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, silogisme adalah bentuk, cara berpikir atau
menarik simpulan yang terdiri atas premis umum, premis khusus, dan simpulan.
Silogisme merupakan suatu cara pernalaran yang formal. Namun, bentuk pernalaran
ini jarang dilakukan dalam komunikasi sehari-hari. Yang sering dijumpai
hanyalah pemakaian polanya, meskipun secara tidak sadar.
Silogisme
terdiri dari :
-
Silogisme
Kategorial
-
Silogisme
Hipotesis
-
Silogisme
Disjungtif
Sebelum
mengulas satu per satu bentuk, perlu diketahui beberapa istilah berikut:
-
Proposisi :
kalimat logika yang merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua atau
beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah.
-
Term :
adalah suatu kata atau kelompok kata yang menempati fungsi subjek (S) atau
predikat (P).
-
Term minor :
adalah subjek pada simpulan.
- Term
menengah : menghubungkan term mayor dengan term minor dan tidak boleh terdapat
pada simpulan.
Silogismen Kategorial
Adalah
silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisi yang mendukung
silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan dengan premis
mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor (premis yang
termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut
adalah term penengah (middle term).
Adapun menurut KBBI simpulan
berdasarkan silogisme kategorial adalah keputusan yg sama sekali tanpa
berdasarkan syarat.
Contoh:
Premis mayor
= Semua makhluk
hidup membutuhkanoksigen.
(Middle term) (Predikat)
Premis
minor = Manusia adalah makhluk
hidup.
(Subjek)
(Middle term)
Simpulan
= Manusia membutuhkan oksigen.
(Subjek) (Predikat)
Hukum-hukum
Silogisme
a. Prinsip-prinsip
Silogisme kategoris mengenai term:
1. Jumlah term tidak
boleh kurang atau lebih dari tiga
1.
Term menengah tidak boleh terdapat dalam
kesimpulan
2.
Term subyek dan term predikat dalam
kesimpulan tidak boleh lebih luas daripada dalam premis.
3.
Luas term menengah sekurang-kurangnya satu kali universal.
b. Prinsip-prinsip
silogisme kategoris mengenai proposisi:
1.
Jika kedua premis afirmatif, maka kesimpulan harus afirmatif juga.
2.
Kedua premis tidak boleh sama-sama negatif.
3.
Jika salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga (mengikuti
proposisi yang paling lemah)
4.
Salah satu premis harus universal, tidak boleh keduanya pertikular.
Silogisme Hipotesis
Adalah silogisme argumen yang premis mayornya berupa posisi hipotetik,
sedangkan premis minornya adalah proposisi kategorik.
Adapun menurut KBBI
silogisme hipotesis merupakan penarikan simpulan atau keputusan yang
kebenerannya berdasarkan syarat tertentu.
Macam-macam
tipe silogisme hipotesis:
1.
Premis minornya mengakui bagian antecedent.
Contoh:
Jika hujan,
saya naik becak.
Sekarang
hujan.
Jadi saya
naik becak.
2. Premis
minornya mengakui bagian konsekuennya.
Contoh:
Bila hujan,
bumi akan basah.
Sekarang
bumi telah basah.
Jadi hujan
telah turun.
3. Premis
minornya mengingkari antecedent.
Contoh:
Jika politik
pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
Politik
pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa.
Jadi
kegelisahan tidak akan timbul.
4. Premis
minornya mengingkari bagian konsekuennya.
Contoh:
Bila
mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah
Pihak
penguasa tidak gelisah.
Jadi
mahasiswa tidak turun ke jalanan.
Silogisme
Disjungtif
Adalah
silogisme yang premis mayornya keputusan disjungtif sedangkan premis minornya
kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut
oleh premis mayor.
Adapun
menurut KBBI silogisme disjungtif ini merupakan penarikan simpulan
atau keputusan berdasarkan beberapa kemungkinan kebenaran pernyataan,
tetapi hanya salah satu pernyataan yg benar.
Silogisme
ini terdiri dari dua macam: silogisme disjungtif dalam arti sempit dan
silogisme disjungtif dalam arti luas.
Silogisme
disjungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.
Contoh:
la lulus
atau tidak lulus.
Ternyata ia
lulus.
la bukan
tidak lulus.
Silogisme
disjungtif dalam arti luas premis mayomya mempunyai alternatif bukan
kontradiktif.
Contoh:
Hasan berada
di rumah atau di pasar.
Ternyata
tidak di rumah.
Jadi Hasan
berada di pasar.
Silogisme
disjungtif dalam arti sempit maupun arti luas mempunyai dua tipe yaitu:
-
Premis
minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusinya adalah mengakui
alternatif yang lain.
Contoh:
Ia berada di
luar atau di dalam.
Ternyata
tidak berada di luar.
Jadi ia
berada di dalam.
Ia berada di
luar atau di dalam.
Ternyata
tidak berada di dalam.
Jadi ia
berada di luar.
-
Premis minor
mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif
yang lain.
Contoh:
Budi di
masjid atau di sekolah.
la berada di
masjid.
Jadi ia
tidak berada di sekolah.
Hukum-hukum
Silogisme Disjungtif:
- Silogisme
disjungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila
prosedur penyimpulannya valid.
-
Silogisme disjungtif dalam arti luas.
a. Bila
premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar).
b. Bila
premis minor mengingkari salah satu alterna konklusinya tidak sah (salah).
2. Entimen
Praktek
nyata berbahasa dengan pola silogisme memang jarang dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari, baik tulisan maupun lisan. Namun entimen (yang pada dasarnya
adalah pola silogisme) sering dijumpai pemakaiannya. Di dalam entimen salah
satu premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama
diketahui.
Contoh:
Menipu
adalah dosa karena merugikan orang lain.
Kalimat di
atas dapat dipenggal menjadi 2 bagian:
- Menipu
adalah dosa. >> Kesimpulan
- Karena
(menipu) merugikan orang lain. >> Premis Minor, karena bersifat khusus.
Dalam
kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor. Untuk
melengkapinya kita harus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum,
jadi tidak mungkin subjeknva "menipu". Kita dapat menalar kembali dan
menemukan premis mayornya: Perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa.
Untuk
mengubah entimem menjadi silogisme, mula-mula kita cari dulu simpulannya.
Kata-kata yang menandakan simpulan ialah kata-kata seperti: jadi, maka, karena
itu, dengan demikian, dan sebagainya. Kalau sudah, kita temukan apa premis yang
dihilangkan.
BAB III
PENUTUP
Demikian
yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
tulisan ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada
hubungannya dengan judul tulisan ini.
Saya banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada saya demi sempurnanya tulisan ini dan penulisan lainnya di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga tulisan ini berguna bagi para pembaca yang budiman pada umumnya.
Saya banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada saya demi sempurnanya tulisan ini dan penulisan lainnya di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga tulisan ini berguna bagi para pembaca yang budiman pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://myth90.blogspot.com/2011/02/penalaran-deduktif.html
http://litstarss.blogspot.com/2010/03/penalaran-deduktif-serta-premis_09.html
http://rahmaekaputri.blogspot.com/2011/02/penalaran-deduktif.html
http://litstarss.blogspot.com/2010/03/penalaran-deduktif-serta-premis_09.html
http://rahmaekaputri.blogspot.com/2011/02/penalaran-deduktif.html
http://rarapsp.blogspot.co.id/2013/10/penalaran-deduktif-silogisme-entimen.html
http://nopi-dayat.blogspot.co.id/2010/03/penalaran-deduktif.html

No comments:
Post a Comment